Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Bisakah aku, jadi rela dan biasa?

Aku tak tahu, ini rasa apa tuan? Rasa ini, terasa begitu menggelitik Kenapa yang lalu begitu cepat terlewati? Ini... cinta atau cuma rasa terbiasa? Mengapa, yang dulunya biasa saja Sekarang jadi teramat istimewa? Kenapa yang dulu tak terlihat di pandangan mata Sekarang mendadak masuk dalam jiwa? Kenapa yang dulunya luput Sekarang terasa hampa jika tiada? Aku, hanya ingin menjadi rela dan biasa Tentang segalanya Tentang cinta, dendam, suka dan duka Karena aku begitu paham Hal paling pasti dalam dunia fana ini Adalah kefanaan itu sendiri Salam Literasi! -Dwi Nofita Sari

Pantaskah aku bertanya,Tuan?

Puisi Sederhana Dari jiwa yang terkoyak, Untuk Tuan, yang sempurna #4 Dan kini, keresahan tiba Pada angan yang mulai tersapu angin Pada tubuh yang mulai tak tahan banting Pada jiwa yang mulai melayu Pada segenggam tekad yang melemah Bagian mananya yang salah, Tuan? Kenapa jadi begini? Kenapa angan yang tadinya tertata... Tak jua terlihat didepan mata? Kenapa hidup selalu tak berpihak? Kenapa hidup tak menentu? Kenapa hidup sesulit ini? Dan kenapa hati ini terus bertanya-tanya Masih adakah kau didalamnya? Salam Literasi -Dwi Nofita Sari

LENTERA PAGI

Puisi Sederhana #4 Dari aku, untuk lenteraku -- Satu atau sejuta Tiada bedanya, bukan? Mereka sama-sama hidup Sama-sama harus ada Harus selalu menjadi lentera Puan, tak seharusnya kau malu Entah lentera itu masih redup, Belum menemukan arti lentera itu, Atau lentera yang kau punya telah lama hilang Yang harus puan yakini adalah Lentera itu, selama apapun.. Sekuat apapun angin berhembus Tak akan pernah padam Satu hal lagi puan, Seberapa tinggi kau letakkan lenteramu Entah setinggi mentari pagi, sehitam langit malam Atau tak lebih tinggi dari jengkalan kepala Itu hak mu, lenteramu adalah milikmu! Kau pantas puan, kau berhak Jangan biarkan angin memadamkan Jangan biarkan ombak mengguncang Atau... Jangan biarkan tangan kecilmu,  Berusaha memadamkan lenteramu sendiri Salam Literasi! -Dwi Nofita Sari

ASAL MULA

Gambar
Sumber: Pinterest.com Ada sebagaian orang, yang dengan sangat mudah dan lancarnya mengutarakan apa yang ada didalam pemikirannya, pandangannya kepada orang lain. Namun sebagian sisasnya, tetap diam meskipun banyak sekali hal yang terpikirkan. Yang sebenarnya ingin dikatakan namun tidak bisa dengan mudah mengungkapkan.  Bukannya tak mau berbagi apa yang diresahkan, namun hanya saja ia lebih nyaman tetap diam. Lalu menggoreskannya disebuah catatan khusus.  Ia merasa, itu adalah dunianya. Disana Ia dapat menumpahkan semuanya. Tentang apa yang Ia lihat, tentang pandangannya seputar hidup, cinta, kecewa dan lainnya. Catatan kecilnya tak pernah menghakiminya, atau sekalipun menghujat pandangannya.  Ia tau pemikirannya begitu rumit untuk diungkapkan. Ada ketakutan bahwa nanti seseorang hanya akan menganggapnya beban.  Sebab itu, catatan kecilnya selalu menjadi yang pertama tau. Tentang yang terjadi dalam harinya. Catatan itu seolah mampu mendengar de...

PANDANGAN ORANG LAIN, PENTINGKAH?

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap suatu hal. Tapi apakah sepenuhnya pandangan tersebut benar? Akankah jika kita mengemukakan pandangan kita, itu akan berdampak baik pada si objek? Memang, mengemukakan pendapat sangat amat dibolehkan. Mengingat negara kita adalah negara demokrasi. Kritik dan saran pun sangat dibutuhkan. Dengan catatan kritik dan saran yang membangun. Bukan malah menjatuhkan. Lalu, bagaimana ketika kita memandang remeh orang lain? Atau mengungkapkan spekulasi yang tidak sepenuhnya kita ketahui? Coba, ketika kita ingin mengungkapkan pendapat kita. Berpikirlah terlebih dahulu. Akankah pendapat ini akan memberikan efek yang baik pada si objek? Atau akan lebih memperburuk situasi dan menjauhkan si objek tersebut. Kita boleh saja membandingkan satu objek dengan objek lain. Si A lebih baik dari si B atau si C tidak lebih jelek dari si A. Semuanya tentang spekulasi dan pengungkapan pendapat yang tidak tepat pada porsinya. Ketika kita mulai membandingka...

PERPANJANGAN TANGAN TUHAN

Siapakah yang beruntung, untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan. Yang dianugrahi cinta kasih yang abadi, yang memiliki rasa sabar tak berbatas layaknya lautan lepas, yang dari setiap ucapanya selalu menjadi kebaikan bagimu, yang setiap detiknya melantunkan doa kepada Tuhan agar duka yang kamu alami diangkat dan digantikan dengan tawa, sedang derita tadi bisa dibebankan kepadanya saja. Siapakah orang mulia itu?  Dia adalah orang yang paling dekat dengamu kawan, yang pasti kalian sudah tau, atau mungkin tak menyadarinya. Ya, kalian benar. Orang mulia tersebut adalah ibumu. Yang selama ini mungkin tak kamu anggap keberadaannya, mungkin juga setiap harinya kamu acuhkan. Namun tanpa kamu sadari beliau adalah orang yang paling kamu butuhkan. Waktu berdentang, berputar dan merubah segalanya. kamumulai beranjak dewasa, dari si kecil yang nyaman dengan pelukan ibumu, menjadi orang yang lebih senang bergaul dengan teman-teman sebayamu. Tidak, jangan salah paham kawan. Saya tid...

PAMIT

Puisi Sederhana #3 Dari aku, pemujamu Untukmu, harapan semuku - Tuan, Aku pamit... Meninggalkan setiap senja merah yang terpatri Meninggalkan setiap garis cerita ini Cukup sebuah memori yang kubawa pergi Sampai disini aku sanggup menahan Gelisah ini tak bisa lagi ku tentang Aku terduduk menyerah Berat sekali rasanya, tuan Tapi bagaimana bisa aku menang? Ketika hanya diri ini yang berjuang? Aku ingin titipkan sepucuk surat untukmu Anggap saja itu kenangan manis dariku Sebagai salam perpisahan terakhir Atau sebagai memori bahwa aku pernah ada Bahwa aku pernah mengisi hatimu sebentar Meski tak pernah terisi sepenuhnya Salam Literasi! -Dwi Nofita Sari

HADIR YANG SEMU

Puisi Sederhana #2 Dari aku, yang memendam sendiri cerita ini Untukmu, Kisah renikku  Cerita ini, diam-diam aku simpan Terpatri kuat, rapat di sanubari Mencoba, berharap bisa dihilangkan Tapi nyatanya, Kau tak mau beranjak pergi Aku bisa melihatmu, melihat bayangmu Lengkungan senyummu, terlihat olehku Namun sudah bisa kupastikan bukan untukku Padahal mestinya aku tahu Dimana posisi seharusnya aku Bahkan akupun tahu Aku hanyalah sebatas senja yang segera lenyap Di ujung retinamu Lalu bagaimana seharusnya tuan? Bagaimana caraku menyikapi hadirku kini Ketika bahkan, akupun tak tahu Apa hadirku ini kau anggap ada Ataukah, hadirku ini hanyalah kesemuan? -Salam Literasi Dwi Nofita Sari

JODOH YANG BUKAN SINETRON

Disiang yang terik. Di ruang keluarga, saya berbincang dengan ibu. Perihal masa depan. Boleh ya saya bercerita sedikit? “Nduk, bismillah ya semoga dapat kerja yang mapan. Biar ibu bisa berhenti kerja. Santai dirumah.” Ibu berujar  “Iya ibuk, aamiin. Doakan yang baik selalu buat saya.” “Ibuk kepingin juga kamu dapet suami yang mapan, yang ganteng. Kan ibuk jadi seneng” kata ibu sambil tertawa geli. Lalu dari percakapan singkat itu, saya melamun tentang jodoh saya nantinya. Diusia yang kini menginjak 20 tahun, pasti terbersit untuk memiliki seorang yang dapat menjadi rumah‟ ternyamanmu. Atau dengan lantang kamu katakan bahwa untuk saat ini kamu berfokus pada jenjang karir? Namun disini sayayakin, sedikit atau banyak kamu pasti berfikir tentang rumah itu. Apa kamu tidak ingin memiliki sebuah rumah tempatmu pulang ketika bahkan dunia tak mengijinkamu tinggal? Sebuah rumah yang bisa menenangkanmu disaat gundah mendera? Sebuah rumah hangat penuh kenyamanan? Tentu saja ingin! Lalu sekaran...

APA HIDUP HANYA TENTANG APA YANG DIRENCANAKAN?

Pernah tidak terfikir apa sesungguhnya definisi dari hidup itu  sendiri? Kenapa kita diciptakan? Lebih banyak manfaat atau mudharat yang kita berikan? Apa manfaat kita bagi sesama?. Kalau kalian pernah berfikir seperti itu, selamat kita punya pemikiran yang sama. Sampai pada suatu siang yang terik, langit biru tanpa awan, matahari berpendar hebat, angin bertiup sepoi. Saya melihat keluar jendela, melihat sebuah pohon berdiri tegap.  Berfikir kembali, bukankah tidak mungkin suatu mahluk diciptakan tanpa manfaat  sekitarnya? Contohnya pohon besar ini, menaungi rumah-rumah disekitarnya agar tetap sejuk. Apa pohon itu memiliki rencana dalam hidupnya? Tentu saja! Lalu apakah hidup pohon itu akan berencana mati sia-sia? Tidak bukan? Begitu juga dengan hidup kita, tidak selalu sesuai dengan apa yang direncanakan. Allah itu maha mengatur semesta, tanpa setitikpun kesalahan. Kalau Ia dengan mudah mengatur alam semesta, mengapa kau ragu dengan hidupmu yang hanya setitik itu?  ...

JIWA YANG RANGGAS

Puisi sederhana. #1 Dari aku yang tak punya apa-apa Kepada Tuhan yang maha sempurna Detik-detik bertendang terlalu ramai  Setiap masa yang aku lewati Menekan, meranggas, menghancurkan jiwa  Ingin hilang sebentar, tapi tak bisa Ingin lupa selamanya, tapi tak mampu Andai perjalan ini mudah Andai tak banyak kerikil Andai selalu sesuai ekspektasi Mungkin dunia akan berubah menyenangkan Aku meyakini diri ini mampu Aku meyakini diri ini kuat memikul Namun satu waktu, hati berkata  "Tidakkah beban yang kau bawa terlalu berat?" Lalu dimana aku harus menaruh beban ini tuan? Dimana aku bisa meletakkan raga ini untuk berserah?  Ini dunia apa tuan? Saya tidak nyaman Apa mungkin Tuhan sedang tidak memperhatikanku? Atau Dia marah padaku? Atau aku yang terlalu lalai hingga membuatnya cemburu? -Salam Literasi! Dwi Nofita Sari

SUKA-DUKA ATAU SUKA-SUKA TUGAS AKHIR?

Spoiler Alert: Berdasarkan Pengalaman Pribadi Penulis Tugas akhir atau skripsi (TA) bagi sebagian mahasiswa menjadi hal yang menjengkelkan atau bahkan menakutkan? Bagi mereka TA dianggap sebagai hal terakhir dalam dunia perkuliahan. Tapi nyatanya TA hanya sebagai jembatan ke sebuah awal yang lebih luas. Dunia kerja, kehidupan sosial, pernikahan, parenting, dan hal-hal yang lingkupnya lebih luas lagi. Mulai dari pembuatan judul, pembagian dosen pembimbing, konsultasi dan hal-hal lain. Semua erat hubungannya dengan keberhasilan penyelesaian TA. Ada yang beranggapan jika judul berbobot maka IPK akan berbobot. Memang judul yang menarik adalah hal yang patut di apresiasi. Namun apakah judul lebih berpengaruh ketimbang isi?  Bagi penulis isi adalah hal utama, bagaimana kalian mendeskripsikan penelitian kalian semenarik mungkin. Sedapat mungkin dipahami dengan mudah dan tidak menimbulkan kontradiksi penafsiran. Mudah? Tidak. Semuanya butuh proses dan pecobaan berkali-kali.  Sebenarny...